14
Feb
Posted by Mustofa W Hasyim in Seni dan Budaya. No Comments
Mustofa W Hasyim
Pada tahun 9999 ada wartawan tersesat di sebuah negeri
Ia salah masuk terminal di bandara, pesawatnya menuju negeri itu
Di dalam pesawat ia sudah mulai heran, lebih lima jam perjalanan
Pramugari hanya memberi aqua gelas dan permen
“Mengapa penumpang tidak diberi makan siang atau apa?”
“Anda sedang menuju negeri Korupsiana, anggaran makan siang ada,
tapi kata pimpinan, makan siang tidak akan diberikan.”
Continue Reading
18
Jan
Posted by Aulia Muhammad in Seni dan Budaya. 1 Comment
Saya membayangkan, seandainya koleksi-koleksi itu bisa dikumpulkan, kemudian diformat dalam bentuk audio dan video modern (berhak cipta tentunya), disimpan di sebuah tempat (museum musik) yang representatif, disajikan kepada masyarakat melalui headpone dengan layar monitor komputer—dilengkapi pula referensi tentang band, musisi, dan lyric yang cukup—dst… alangkah manisnya. Akan sangat membantu dan memudahkan masyarakat penikmat musik (selain melalui radio) mengapresiasi karya-karya musik Bacamarte (Brasil), Le Orme (Itali), Yezda Urfa (Amerika), Carptree (Swedia), Quidam (Polandia), After Crying (Hungaria), Nexus (Argentina), Ars Nova (Jepang), Ark (Norwegia), Kayak (Belanda), Tangerine Dream (Jerman), Manudibango (Afrika), IQ (Inggris) dsb. Atau memanjakan penikmat musik yang ingin sekadar bernostalgia mendengarkan Bali Agung (Eberhard Soener), Alam Raya (Abbhama), dan Nonton Bioskop (Bing Slamet) misalnya. [More]