<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>BLOG SUARA MUHAMMADIYAH</title>
	<atom:link href="http://blog.suara-muhammadiyah.com/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://blog.suara-muhammadiyah.com</link>
	<description></description>
	<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 04:54:54 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.7</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Film  AS  Goncangkan  umat  Islam  di  Dunia</title>
		<link>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=43</link>
		<comments>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=43#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 04:51:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Macam-macam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=43</guid>
		<description><![CDATA[Film  AS  Goncangkan  umat  Islam  di  Dunia 
Muslim Amerika dibuat marah oleh film dokumenter kontroversial anti-Islam film yang secara luas diedarkan di berbagai negara, termasuk oleh koran terkemuka, untuk menakuti orang Amerika dari agama Islam dan orang Muslim di dunia.
dikutip dari youtube
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.youtube.com/watch?v=UZwfY1GEENI">Film  AS  Goncangkan  umat  Islam  di  Dunia </a></p>
<p><span>Muslim Amerika dibuat marah oleh film dokumenter kontroversial anti-Islam film yang secara luas diedarkan di berbagai negara, termasuk oleh koran terkemuka, untuk menakuti orang Amerika dari agama Islam dan orang Muslim di dunia.</span></p>
<p>dikutip dari <a href="http://youtube.com">youtube</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?feed=rss2&amp;p=43</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menjelang Tanwir</title>
		<link>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=34</link>
		<comments>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=34#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 04:41:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mustofa W Hasyim</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Macam-macam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=34</guid>
		<description><![CDATA[Menjelang Sidang Tanwir kesibukan di kantor PP Muhammadiyah meningkat. Persiapan bapak-bapak untuk mensukseskan sidang itu. Di kantor kami, di majalah Suara Muhammadiyah pun ada kesibukan untuk menyongsong Tanwir. mulai dari bagaimana merancang laporan, bagaimana meramaikan bazar, dan persiapan tim yang akan dikirim ke Lampun.  Seru.Ada teman nyeletuk. &#8220;Ini baru Tanwir, belum Muktamar. kalau Tanwir saja [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Menjelang Sidang Tanwir kesibukan di kantor PP Muhammadiyah meningkat. Persiapan bapak-bapak untuk mensukseskan sidang itu. Di kantor kami, di majalah Suara Muhammadiyah pun ada kesibukan untuk menyongsong Tanwir. mulai dari bagaimana merancang laporan, bagaimana meramaikan bazar, dan persiapan tim yang akan dikirim ke Lampun.  Seru.Ada teman nyeletuk. &#8220;Ini baru Tanwir, belum Muktamar. kalau Tanwir saja sudah heboh, apalagi Muktamarnya nanti di tahun 2010 di Yoyakara?&#8221; Hiya, betul juga.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?feed=rss2&amp;p=34</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>HASRAT INGIN BERUBAH (HIB)</title>
		<link>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=35</link>
		<comments>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=35#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Feb 2009 04:25:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Deny Al Asy’ari</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Macam-macam]]></category>

		<category><![CDATA[Obrolan Ringan]]></category>

		<category><![CDATA[Add new tag]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[Hasrat Ingin Berubah&#8230;..

Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,
aku bermimpi ingin mengubah dunia.
Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, 
kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.
Maka cita-cita itu pun agak kupersempit, 
lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.
Namun tampaknya, hasrat itu pun tiada hasil
Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, 
Kuputuskan untuk mengubah keluargaku,
orang-orang yang paling [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;"><strong>Hasrat Ingin Berubah&#8230;..</strong></p>
<p><!--[if gte mso 9]&gt;  Normal 0   false false false        MicrosoftInternetExplorer4  &lt;![endif]--><!--[if gte mso 9]&gt;   &lt;![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="FI">Ketika aku masih muda dan bebas berkhayal,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="FI">aku bermimpi ingin mengubah dunia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="FI">Seiring dengan bertambahnya usia dan kearifanku, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="FI">kudapati bahwa dunia tidak kunjung berubah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="ES">Maka cita-cita itu pun agak kupersempit, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="FI">lalu kuputuskan untuk hanya mengubah negeriku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="FI">Namun tampaknya, hasrat itu pun tiada hasil</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="FI">Ketika usiaku semakin senja, dengan semangatku yang masih tersisa, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="FI">Kuputuskan untuk mengubah keluargaku,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="NO-BOK">orang-orang yang paling dekat denganku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="FI">Tetapi malangnya, mereka pun tidak mau berubah.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="SV">Dan kini sementara aku berbaring saat ajal menjelang, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="FI">Tiba-tiba kusadari:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="FI">Andaikan yang pertama-tama kuubah adalah diriku,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="SV">dan dengan menjadikan diriku sebagai teladan,</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="SV">mungkin aku dapat mengubah keluargaku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="SV">Lalu berkat inspirasi dan dorongan mereka, </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="FI">bisa jadi aku pun mampu memperbaiki negeriku.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="SV">Kemudian siapa tahu </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><span lang="SV">aku bahkan dapat mengubah dunia</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center"><em>(Dikutip dari The Willingness to Change</em></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: center; line-height: 150%;" align="center">Sebuah Puisi yang Ditulis Oleh Seorang<span> </span>Anglican Arch Bishop, Inggris)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?feed=rss2&amp;p=35</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>ALERGI SETELAH WISATA KULINER</title>
		<link>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=32</link>
		<comments>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=32#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 16 Feb 2009 06:46:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Macam-macam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=32</guid>
		<description><![CDATA[wisata kuliner banyak diminati oleh para pekerja yang sibuk dengan pekerjaannya. kegiatan ini selain mengasyikkan juga membahayakan. karena kalau tidak terkontrol dengan baik akan menimbukan hal-hal yang merugikan kita sendiri. Seperti kata pepatah.. bersenang-sengang dahulu, sakit kemudian. Ini yg dialami juga oleh rekan kita Isngadi yang beberapa waktu lalu terkena alergi setelah menyantap nasi goreng [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>wisata kuliner banyak diminati oleh para pekerja yang sibuk dengan pekerjaannya. kegiatan ini selain mengasyikkan juga membahayakan. karena kalau tidak terkontrol dengan baik akan menimbukan hal-hal yang merugikan kita sendiri. Seperti kata pepatah.. bersenang-sengang dahulu, sakit kemudian. Ini yg dialami juga oleh rekan kita Isngadi yang beberapa waktu lalu terkena alergi setelah menyantap nasi goreng sea food. dan sampai hari ini, Saudara Isngadi belum bisa melakukan aktivitas di kantor seperti biasa. untuk kabar dan keterangan selanjutnya, kita nantikan beliau hadir kembali esok. dan tak lupa kita mengucapkan &#8220;semoga lekas sembuh..&#8221; <img src='http://blog.suara-muhammadiyah.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?feed=rss2&amp;p=32</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Karikatur tentang Fatwa Rokok Haram</title>
		<link>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=22</link>
		<comments>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=22#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 04:23:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>redaksi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Macam-macam]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[
Rokok telah diharamkan oleh MUI lewat fatwanya beberapa waktu lalu.  Masyarakat perlu memperhatikan ini.  Masalahnya, bagaimana dengan Bapak-bapak Ulama yang doyan merokok?
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignnone size-full wp-image-21" title="karikatur_fatwarokokhram" src="http://blog.suara-muhammadiyah.com/wp-content/uploads/2009/02/karikatur_fatwarokokhram.jpg" alt="karikatur_fatwarokokhram" width="500" height="366" /></p>
<p>Rokok telah diharamkan oleh MUI lewat fatwanya beberapa waktu lalu.  Masyarakat perlu memperhatikan ini.  Masalahnya, bagaimana dengan Bapak-bapak Ulama yang doyan merokok?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?feed=rss2&amp;p=22</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jogja dan Sekaten</title>
		<link>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=18</link>
		<comments>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=18#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 04:18:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mustofa W Hasyim</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Obrolan Ringan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=18</guid>
		<description><![CDATA[Datang ke Jogja tanpa mampir ke Alun-alun Utara sepertinya makan tanpa lauk. Apalagi sekarang. Dii sana sedang ada Pasar Malam Perayaan Sekaten yang berlangsung sebulan. kalau mengajak anak-anak bisa lebih seru. Banyak mainan anak-anak, jua permainan yang mendebarkan semacam flying fox, atau melihat akrobat tong stand dan aneka hiburan kesenian di Panggung Kesenian.
Bagi yang ingin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Datang ke Jogja tanpa mampir ke Alun-alun Utara sepertinya makan tanpa lauk. Apalagi sekarang. Dii sana sedang ada Pasar Malam Perayaan Sekaten yang berlangsung sebulan. kalau mengajak anak-anak bisa lebih seru. Banyak mainan anak-anak, jua permainan yang mendebarkan semacam flying fox, atau melihat akrobat tong stand dan aneka hiburan kesenian di Panggung Kesenian.<br />
Bagi yang ingin berburu makanan khas Sekaten, harap sabar karena nasi gurihnya keluarnya nanti setelah gamelan Ki Gunturmadu dan Ki Nagawilaga ditabuh di halaman masjid besar. Tapi kalau kalau tidak sabar, bisa berburu makanan khas lain di kampung Kauman. Disini ada yang berjualan jadah manten, caranggesing, dan sayur yang lezatnya minta ampun. Cari saya di warung Mbak Surat utara masjidbesar, tapi hanya buka sampai jam 11.00 pagi. Ada gudeg yang dijuluki gudeg emas karena mahalnya berbandign lurus dengan rasa lezatnya. bagi yang haus silakan nikmati es jus buah yang murahnya juga minta ampun, di utara Balai RK Kauman.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?feed=rss2&amp;p=18</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>HANTU DERAP SEPATU</title>
		<link>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=16</link>
		<comments>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=16#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 04:05:27 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mustofa W Hasyim</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Cerita Pendek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Cerpen: Mustofa W Hasyim
Lapangan sepakbola itu dikelilingi oleh tiga kuburan pada tiga sisinya.  Hanya ada satu sisi yang tidak ada kuburannya. Berupa sawah. Kemudian, sawah  lenyap. Menjadi perumahan..
Tiga kuburan itu berbeda-beda peruntukannya. Kuburan sebelah barat sangat mewah. Ini khusus kuburan para bangsawan dan anak-anaknya yang kemudian menjadi pejabat tinggi di berbagai kota. Tembok [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Cerpen: Mustofa W Hasyim</strong></p>
<p>Lapangan sepakbola itu dikelilingi oleh tiga kuburan pada tiga sisinya.  Hanya ada satu sisi yang tidak ada kuburannya. Berupa sawah. Kemudian, sawah  lenyap. Menjadi perumahan..<br />
Tiga kuburan itu berbeda-beda peruntukannya. Kuburan sebelah barat sangat mewah. Ini khusus kuburan para bangsawan dan anak-anaknya yang kemudian menjadi pejabat tinggi di berbagai kota. Tembok kuburan ini cukup tinggi, ada gerbang megah dan di dalamnya penuh dengan cungkup-cungkup atau rumah-rumahan yang sangat bagus. Ada taman di belakang gerbang. Ada kerikil campur pasir membentang, di sela-sela pohon bunga. Ada pohon bunga yang ditanam pada <span id="more-16"></span>pot-pot besar, ada pohon bunga yang ditanam langsung di tanah. Ada juga semacam bangsal atau pendapa tempat para pelayat atau peziarah berteduh. Untuk mengetahui siapa pemilik kuburan ini, keluarga bangsawan yang mana, dapat dilakukan dengan membaca prasasti dan sangkalan yang menyimbolkan tahun dibangunnya kuburan itu berupa relief kecil  seekor katak sedang duduk di atas permadani Di kuburan ini selalu ada upacara sangat serius setiap ada yang akan dimakamkan. Kalau jenazahnya ketika hidup adalah pejabat militer ada upacara militer lengkap, sedang kalau yang meninggal pejabat sipil maka sambutannya biasanya panjang-panjang dari berbagai kalangan. Karangan bunga melimpah.<br />
Kuburan sebelah timur biasa-biasa saja. Milik umum. Tidak ada dinding tinggi. Hanya rumpun bambu yang rimbun mengelilingi kuburan ini. Cungkup atau rumah-rumahan yang ada di sini pun sederhana. Kecil-kecil dan biasanya dibuat dari kayu. Mirip rumah petak Nisan yang berjajar pun kelas murahan. Bahkan banyak yang dikubur tanpa batu nisan. Ada satu dua payung tua yang sudah robek-robek memayungi makam. Ada payung baru, dengan nisan dari kayu yang masih ada kain putihnya. Juga bunga-bunga terserak, mengering. Di kuburan ini rumput-rumput masih tumbuh subur, semacam alang-alang, atau rumput berbulu dan rumput yang bunganya mirip butir-butir padi tapi kecil sekali. Ada juga rumput yang batangnya sangat kuat, berbentuk segitiga yang suka dibuat mainan wayang oleh anak-anak gembala. Memang di kuburan ini banyak anak-anak menggembala kambing. Terutama ketika lapangan sepakbola sedang dipergunakan untuk pekan pertandingan sepakbola antardesa, antarkelurahan atau antarsekolah.<br />
Sedang kuburan ketiga, di sebelah selatan, dulu dikenal sebagai kuburan prajurit, atau makam pahlawan tidak dikenal. Sebab pada zaman perang puluhan pejuang yang gugur baik dalam pertempuran atau gugur ditembak dan disiksa oleh musuh dimakamkan di sini. Pernah diusulkan agar kuburan ini dijadikan makam pahlawan untuk tingkat kabupaten, tetapi usul ini ditolak anggota dewan perwakilan rakyat karena yang dimakamkan di sini hanya para prajurit yang pangkatnya rendah, berasal dari desa, atau para prajurit yang tidak dikenal karena berasal dari luar desa. Tidak ada nama pejuang yang pangkatnya tinggi atau namanya cukup dikenal menyebabkan kuburan ini gagal dijadikan makam pahlawan. Meski begitu, penghuni kuburan ini terus bertambah. Biasanya para tentara pensiunan atau veteran pejuang , termasuk cacat veteran, ketika meninggal, dimakamkan di sini. Demikian juga ketika ada tentara yang meninggal saat terjadi  huru-hara politik di tahun enampuluhan. Juga ada pensiunan polisi yang gugur karena berani melawan lima perampok yang beraksi di bank pasar, dimakamkan di sini. Di tempat ini, sebagamana di kuburan para bangsawan, tidak ada anak-anak yang berani bermain-main. Menurut mereka, kedua tempat itu terasa menyeramkan. Kabarnya banyak hantu-hantu bersembunyi di kedua makam itu. Menurut cerita, di makam bangsawan itu ada hantu mengerikan berupa dua ekor naga yang suka bergelantungan di pintu gerbang. Ada juga yang kabarnya pernah melihat ada hantu berupa kuda putih yang suara tertawanya membuat bulu kuduk berdiri. Sedang di kuburan tempat para prajurit itu kabarnya ada hantu berupa macan yang juga berwarna putih. Ada juga hantu berupa raksasa bertubuh tinggi besar yang rambut serta bulu-bulunya panjang dan kaku menyerupai ijuk. Bahkan ada yang kabarnya pernah melihat ada berbagai warna menyala di banyak nisan. Kabarnya, itu merupakan ilmu-ilmu kesaktian yang ikut terkubur disitu.<br />
Tentu saja kuburan orang biasa juga tidak sepi dari kisah hantu. Tetapi hantu penghuni kuburan orang biasa ini kabarnya lucu-lucu, suka bercanda menggoda dan yang penting tidak seram atau berbahaya. Ada hantu berupa anak-anak kecil yang suka bermain lepetan, jamuran atau soyang-soyang di malam purnama. Ada hantu berupa gadis genit yang suka mengajak pacaran jejaka kesepian tetapi bernafsu besar. Ada juga hantu yang suka membeli bakmi, bakso atau penjual sate ayam yang kebetulan lewat di dekatnya. Ada juga hantu yang suka bermain musik kotekan mirip orang ronda. Karena hantunya lucu-lucu dan suka bercanda maka di siang hari anak-anak tidak takut bermain-main di kuburan ini. Berbeda dengan di kuburan bangsawan dan di kuburan para prajurit, yang hantunya galak, seram dan kabarnya sungguh menakutkan.<br />
Para penghuni perumahan itu mula-mula tidak tahu kalau tiga kuburan itu menyimpan hantu yang berbeda-beda. Tetapi ketika makin hari penghuni perumahan itu bergaul dengan penduduk desa di sekitar tiga kuburan mereka kemudian tahu dan mendengar cerita tentang berbagai macam hantu di tiga kuburan itu. Tetapi tidak semua penghuni perumahan percaya kepada hantu-hantu itu. Mereka menganggap itu hanya ilusi atau halusinasi saja.<br />
Demikianlah yang terjadi sampai kemudian seluruh persawahan di depan lapangan sepakbola itu habis karena disitu kemudian dibangun kantor kecamatan yang baru. Lalu di dekatnya lagi dibangun yang menghubungkan dengan kota kabupaten, dibangun pasar, kantor polisi, kantor koramil, kantor pegadaian, puskesmas, sekolah menengah pertama dan sekolah menengah atas, juga toko-toko. Desa-desa dan perumahan menjadi menyatu menjadi kota kecamatan. Dusun berubah menjadi kampung-kampung. Halaman-halaman rumah menyempit karena banyak tumbuh rumah baru. Juga pekarangan<br />
Semua berubah, kecuali tiga kuburan itu. Kisah-kisah hantu tetap terpelihara karena jalan yang ada didekat lapangan diperlebar, dipergunakan untuk lewat bis-bis mini, yang menghubungkan kota kecamatan itu dengan kecamatan lain, juga dengan kota kabupaten. Dari sopir dan kernet bis-bis mini itulah cerita tentang hantu itu malahan terus berkembang. Sebab kabarnya mereka sering digoda oleh hantu-hantu itu. Misalnya ada penumpang berwujud gadis cantik berbau wangi kemalaman dan ketika diantar naik bis ternyata turunnya di kuburan orang biasa, dengan tenang gadis itu masuk kuburan, lalu terdengar suara tertawa mengikik mirip yang dapat didengar dalam film hantu atau kisah misteri di layar televisi. Sopir dan kernet bis itu ketakutan. Tetapi apa boleh buat, mereka harus tetap lewat sekitar lapangan, karena rutenya memang harus melewati jalan itu. Yang menyebabkan kisah hantu makin seru karena   bukan hanya hantu yang lucu dan suka bercanda dari kuburan orang biasa yang menggoda sopir dan kernet bis, atau siapa saja yang melewati jalan itu, tetapi hantu-hantu yang berdiam di kuburan bangsawan dan kuburan kemudian ikut-ikutan beraksi. Kabarnya malam hari setelah Maghrib ada penumpang lelaki perempuan berpakaian mewah turun dari bis. Begitu mereka meloncat dari bis keduanya beurbah jadi dua ekor naga yang sisiknya gemerlapan. Kernetnya sampai kencing di celana karena ketakutan, dan sopirnya langsung menekan gas sehingga hampir menabrak penjual bensin di sebuah pojokan kota. Hari-hari berikutnya ganti hantu penghuni kuburan perajurit yang muncul. Ada penumpang dengan tubuh tegap dan ramah, tetapi ketika turun dari  bis tubuhnya langsung berubah macan putih, meloncat tinggi masuk ke kuburan.<br />
Percakapan penghuni kota kecamatan itu dalam waktu berhari-hari, berminggu-moinggu dan berbulan-bulan selalu saja tentang hantu-hantu yang terus menggoda kru bis, tukang becak, para penjual makanan di kampung-kampuig. Bahkan pernah ketika di lapangan sepakbola itu diadakan pasar malam dan diputar film gratis tentang hantu jenaka, banyak penonton yang kabarnya merasa kalau mereka ditemani oleh banyak hantu yang juga ikut menonton film layar tancap itu. Maklum, malam gelap, udara dingin bertiup, dan wajah penonton di samping kiri, kanan atau depan tidak jelas. Tetapi ketika ada yang mendengar penonton di sampingnya tertawanya agak aneh penonton itu menengok. Kabarnya ia melihat kalau penonton di sampingnya itu berwajah rata, wajahnya kayak terbuat dari karet.<br />
Yang membuat penghuni kota kecamatan betul-betul tidak tenteram adalah ketika tiba-tiba lapangan sepakbola itu juga dipergunakan oleh para hantu untuk beraksi. Kali ini hantunya berbeda dengan hantu-hantu yang dulu. Sebab tepat tengah malam ada penghuni perumahan yang keheranan karena mereka mendengar suara orang berlatih drum band di tengah lapangan, lengkap dengan suara terompet melengking. Waktu itu terang bulan. Penghuni perumahan yang semula tidak percaya hantu itu keluar rumah. Begitu ia melihat seperti ada pasukan sedang bermain drum band tetapi mereka semua tidak berkepala ia pun lari ketakutan. Lapor ke gardu ronda. Tentu saja anak-anak yang berugas ronda tidak berani mendatangi lapangan sepakbola itu. Sebab mereka tadi juga heran mendengar ada suara drum band. Lalu hari berikutnya penduduk perumahan dan kampung-kampung sekitar lapangan mendengar suara seperti orang ang sangat banyak sedang berlatih perang di tanah lapang. Mereka mendengar suara aba-aba dari berbagai macam bahasa, suara tembakan, dan suara-suara pasukan bernyanyi setelah latihan usai. Suara hantu berlatih perang-perangan ini betul-betul menggangu penduduk kota itu. Sebab berlangsung sampai berhari-hari. Seorang ulama yang kebetulan agak paham soal hantu-hantuan dimintai tolong agar hantu itu tidak mengganggui lagi. Ulama itu  pada malam harinya membawa tikar bersembahyang di tengah lapangan. Tepat pada saat hujan gerimis turun dan mega hitam menutup langit sehingga bintang-bintang tidak kelihatan, ulama itu merasa dikepung oleh banyak sekali pasukan. Seragamnya tidak jelas dan bermacam-macam, tetapi mereka sangar dan kelihatan galak-galak. Sebagai orang uang pernah ikut latihan silat dan latihan militer dan  dulu pernah bergabung dengan pejuang ia  tidak takut.<br />
	“Siapa komandan kalian?” teriaknya lantang.<br />
	Seseorang bertubuh tinggi, tegap mendekat.<br />
	“Saya.”<br />
	“Mengapa anak buahmu mengganggu ketenteraman penghuni kota ini?”<br />
	“Maaf Kiai, sebab sudah tidak ada tempat lain bagi kami untuk latihan perang-perangan.”<br />
	“Lho kan masih banyak lapangan lain, juga masih banyak tempat yang luas di pantai untuk latihan perang-perangan.”<br />
	“Tempat-tempat seperti itu sekarang berbahaya bagi kami.”<br />
	“Kenapa?”<br />
	“Sebab sudah dipakai untuk berlatih tenaga dalam. Banyak di antara mereka yang iseng melontarkan serangan tenaga dalamnya ke sembarang tempat. Banyak buahku yang luka dan tewas.”<br />
	“Lho hantu bisa luka dan mati?”<br />
	“Bisa saja Kiai.”<br />
	“Begini saja. Kami penghuni kota ini kan tidak pernah mengganggu kalian. Oleh karena itu kami juga mengharap kalian tidak mengganggu kami.”<br />
	“Maaf , Kiai, kami minta waktu. Sebab latihan kami masih belum selesai.”<br />
	“Kapan selesainya?”<br />
	“Empatpuluh hari lagi.”<br />
	“Baik, setelah empat puluh hari kami harap kalian pergi dari kota ini.”<br />
	“Siap Kiai. Nanti kami akan pergi dengan sendirinya.”<br />
	Ulama dan komandan hantu itu bersalaman.<br />
	Paginya, ulama itu melaporkan hasil negosiasi dia dengan komandan hantu kepada pak camat, komadan polisi, komandan koramil. Meski mereka merasa aneh dan absurd juga, tetapi mereka terpaksa mengalah. Lalu para lurah, pengurus erwe, dan erte dikumpulkan untuk diberi pengarahan mengenai hal itu. Mereka diminta untuk mengumumkan bahwa para penduduk diminta bersabar karena pasukan hantu itu masih mau berlatih selama empatpuluh hari lagi.<br />
Setiap malam lapangan sepakbola, juga beberapa tempat di sekitar lapangan, termasuk di lembah sungai yang ada di dekar kuburan bangsawan, selalu terdengar suara para hantu berlatih perang-perangan. Sangar ribut, bising, karena sepertinya mereka juga menggunakan senapan mesin ringan, berat,  bahkan suara dentuman-dentuman dan gelegar-gelegar juga terdengar jelas. Ada penghuni kota yang mencoba mengintip menceritakan bagaimana ia menyaksikan nyala api dan ledakan berwarna-warna menyertai latihan perang itu. Yang membuat penghuni kota itu menggigil adalah selama seminggu terakhir, mereka mendengar latihan perang-perangan itu sudah masuk kampung. Mereka mendengar bagaimana derap sepatu lars masuk lorong kampung, disertai dengan berbagai teriakan aba-aba atau nyanyian dari berbagai bahasa. Ada yang seperti menggunakan bahasa Belanda, bahasa Jepang, bahasa Itali, bahasa Perancis, juga terdengar makian khas tentara Amerika, ditambah kata-kata yang tidak jelas karena berasal dari suku liar mana, atau berasal dari planet mana, tidak ada yang tahu. Suara jerit orang kena tembakan atau tusukan bayonet juga terdengar. Pendeknya, suasana malam-malam itu sungguh mirip denga suasana perang kota.<br />
	Setelah itu sepi. Komandan hantu itu yang ternyata menjadi komandan latihan gabungan para tentara hantu dari berbagai negara itu (demikian penuturan ulama yang dipamiti oleh komandan itu)  kemudian pergi. Bersama seluruh pasukan gabungan hantu global itu. Penduduk kota sepertinya malah kesepian. Telinga mereka mencari-cari suara tembakan, teriakan, jeritan, makian, nyanyian dan suara hantu derap sepatu, tetapi harapan mereka sia-sia. Penghuni kota itu merasa kehilangan.<br />
	Tetapi sepuluh hari setelah itu, penduduk kota kecamatan itu dikejutkan oleh datangnya suara derap sepatu yang banyak sekali. Mirip suara sepatu tentara. Suara derap sepatu itu bergerak keliling kota, keluar masuk kampung, bahkan ada yang masuk ke halaman rumah dan masuk WC segala. Penduduk kota heran, juga mulai marah karena menyangka komandan pasukan gabungan hantu global kemarin telah menyalahi janjinya. Mereka penasaran, dan banyak yang mengintip setelah terlebih dahulu memadamkan lampu di kamar mereka.<br />
	Apa yang mereka lihat? Ternyata hantu anak-anak yang lucu, juga pasangan hantu genit dari kuburan orang biasa, juga hantu-hantu yang galak dari kuburan bangsawan dan hantu-hantu yang berasal dari kuburan prajurit, semua bergabung, memakai sepatu lars, mereka berlatih perang-perangan. Rupanya selama ada latihan gabungan pasukan hantu global, mereka sembunyi dan diam-diam memperhatikan apa yang dilakukan oleh pasukan hantu global itu. Sekarang setelah pasukan hantu global pergi, hantu-hantu lokal gantian berlatih perang-perangan. Tentu saja penduduk kota kecamatan itu tidak takut sama sekali Mereka malahan mentertawakan latihan hantu lokal itu. Mereka tertawa terbahak-bahak, serentak, sampai hantu lokal itu malu sendiri. Lalu terbirit-birit kembali ke kuburannya masing-masing.</p>
<p>                                                                    Yogyakarta, Mei 2002</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?feed=rss2&amp;p=16</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>FESTIVAL KORUPSI DI SEBUAH NEGERI</title>
		<link>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=12</link>
		<comments>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=12#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 14 Feb 2009 03:57:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Mustofa W Hasyim</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Mustofa W Hasyim
Pada tahun 9999 ada wartawan tersesat di sebuah negeri
Ia salah masuk terminal di bandara, pesawatnya menuju negeri itu
Di dalam pesawat ia sudah mulai heran, lebih lima jam perjalanan
Pramugari hanya memberi aqua gelas dan permen
“Mengapa penumpang tidak diberi makan siang atau apa?”
“Anda sedang menuju negeri Korupsiana, anggaran makan siang ada,
     [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Mustofa W Hasyim</strong></p>
<p>Pada tahun 9999 ada wartawan tersesat di sebuah negeri<br />
Ia salah masuk terminal di bandara, pesawatnya menuju negeri itu</p>
<p>Di dalam pesawat ia sudah mulai heran, lebih lima jam perjalanan<br />
Pramugari hanya memberi aqua gelas dan permen</p>
<p>“Mengapa penumpang tidak diberi makan siang atau apa?”<br />
“Anda sedang menuju negeri Korupsiana, anggaran makan siang ada,<br />
                               tapi kata pimpinan, makan siang tidak akan diberikan.”<br />
<span id="more-12"></span><br />
Mendengar kata pramugari, wartawan itu heran, Korupsiana?<br />
Negeri apa pula ini? Mengapa aku harus menuju ke negeri ini?</p>
<p>Pramugari tadi mendekat sambil tersenyum manis, bebrisik lirih,<br />
“Anda tahu, menurut aturan pesawat ini seharusnya terbang<br />
         di ketinggian tigaribu kaki, tapi pilot hanya menaikkan pesawat ini<br />
         seribu limaratus kaki.”</p>
<p>Wah, ketinggian pesawat saja dikorupsi oleh pilot pesawat ini,<br />
makan siang juga. hebat juga perusahaan negara negeri Korupsiana ini,<br />
         pikir wartawan itu.</p>
<p>Pesawat mendarat dengan kecepatan yang diperlambat separonya,<br />
menyentuh landasan yang panjangnya hanya separo landaan normal </p>
<p>“Ini benar-benar di luar dugaan, di negeri Korupsiana orangnya kreatif betul,<br />
  Kecepatan pesawat dikorupsi, panjang landasan pacu dikorupsi, dan<br />
        semua selamat-sentausa tak kurang satu apa,” gerutu wartawan itu.</p>
<p>Sang wartawan segera dicegat oleh pemandu wisata, “Selamat Datang.”<br />
“Terima kasih. Saya baru pertama menginjak negeri ini, jadi banyak heran<br />
        Gumun sejak tadi.”</p>
<p>“Saudara bruntung datang ke negeri ini hari ini,” kata pemandu wisata<br />
“Kenapa?” wartawan heran.</p>
<p>“Karena nanti malam ada pembukaan Festival Korupsi. Festival tahunan<br />
  Negeri ini, akan berlangsung empatpuluh hari empatpuluh malam.”</p>
<p>“Wow, wow. Ini sungguh wonderfull country, sungguh unpredictable country.”<br />
“Yes, in my country the wrong it right and the right is wrong.”</p>
<p>“Ya, betul di negeri ini orong-orong le mangan ngirit dan kalau kecirit-cirit harus<br />
 sembunyi di gorong-gorong, betul kan?”</p>
<p>‘Yes, yes, very bet.”<br />
“Kok very bet?</p>
<p>“Very bet itu maksudnya very betul. Adalah biasa kalau orang negeri ini<br />
  mengunthet atau menyunat huruf-huruf ketika berkata-kata.”</p>
<p>Wartawan itu makin heran. Ia diajak naik taksi, menuu ibukota,<br />
Sepanjang jalan ia lihat gapura yang hanya dibangun satu sisi, banyak mobil hanya<br />
            beroda tiga.</p>
<p>“Pasti gapura itu dkoruosi separo ya? Dan mobil-mobil tu dikorupsi banna satu ya?”<br />
“Wah, saudara sangat cerdas. Baru menit pertama tiba di negeri ini sudah cepat<br />
     paham. Biasanya kalau turisnya koplo atau kemplu butuh waklu lebih lama lho.”</p>
<p>Sepanjang perjalanan menuju hotel, pemandu wisata itu memberi briefing pada<br />
si wartawan tentang segala sesuatu yang menyangkut negeri ini.</p>
<p>“Disini dasar negaranya adalah Korupsila. Hanya satu kalimat.<br />
Korupsi adalah tradisi kami. Mudah mengingatnya kan?”</p>
<p>“Disini Undang-undang dasar nya juga ringkas, satu kalimat, bunyinya;<br />
 Undang-Undang Duit ini merupakan sumber dari segala sumber kemakmuran.”</p>
<p>“Semboyan warga negeri ini juga sederhana, ringkas, bunyinya;<br />
  Kemakmuran tanpa keadilan tidak apa-apa, ya tak apa-apa.”</p>
<p>“Lagu kebangsaa kami berjudul Korupsi Raya. Syairnya pendek sekali;<br />
  Korupsi raya, merdeka-merdeka, merdeka-merdeka korupsi raya.”</p>
<p>Sang wartawan tertawa ngakak mendengar briefing itu.<br />
“Wah, negerimu lucu,” komentarnya.</p>
<p>Pemandu wisata marah,”Jangan mengejek kami. Kami serius.<br />
Apa yang terjadi di negeri ini sudah berlangsung sejak empat ribu tahun lalu.”</p>
<p>Sang wartawan melongo,” jadi negeri Korupsiana sudah ada sejak sebelum Masehi?”<br />
“Ya. Makanya jangan glenyengan atau menganggap lucu. Semua ini serius.”</p>
<p>Wartawan itu memasang tampang serius walau batinnya masih ngakak terus.<br />
“Lantas Festival Korupsinya diadakan dimana?” ia coba mengalihkan pembicaraan.</p>
<p>“Nanti malam, di Gelanggang Olah-olah.”<br />
“Gelanggang Olah-olah?”</p>
<p>“Ya, di gelanggang Olah-olah. Tempat itu biasa untuk mengolah raga, mengolah jiwa, mengolah masakan, mengolah tender proyek, mengolah suara Pemilu, dan<br />
     lainnya. Termasuk mengola suara Pilkadal dan mengolah keputusan hakim.”</p>
<p>Wartawan itu takjub bukan main. Setelah sampai hotel, ia berpesan agar malamnya dijemput dan diantar ke tempat pembukaan Festival Tahunan Korupsi negeri ini.</p>
<p>“Baik siap.”<br />
“Saya juga siap dengan bayarannya.”</p>
<p>“Siap, terima kasih.”<br />
“Siap, terima kasih kembali. Yes.”<br />
Keduanya berpisah. Sang wartawan segera masuk ke kamar hotel yang tadi telah dipesan oleh pemandu wisata. a tertidur nyenyak sampai tidak tahu kalau sebenarnya<br />
 isi kamari itu unik juga. </p>
<p>Baru ketka bangun ia tahu kalau kasurnya ternyata Cuma separo, bantalnya juga<br />
  Separo, lampu menyala separo, air ledeng mengalir separo, air kemasan dalam<br />
  botol beris separo, ketika ia menyalakan televisi, hanya separo layar televisi<br />
  yang memancarkan gambar-gambar.</p>
<p>Ia sadar, hari ini benar-benar ada di negeri Korupsiana. Ia memesan nasi goreng,<br />
Telur gorengnya separo, pelayannya berpakaian separo tubuh, wah.</p>
<p>Malam hari, Festival Korups negeri itu dimulai. Dibuka oleh seorang Presiden<br />
“Perhatikan Bapak itu,” bisik pemandu wisata.</p>
<p>Wartawan itu mengamati seroang Presiden yang tengah berpidato,<br />
“Tak ada yang aneh Bung.”</p>
<p>Pemandu wisata tersenyum. “Perhatikan lagi,” katanya.<br />
“Wah, biasa-bisa saa dia. Orang penting suka pidato itu kan biasa.”</p>
<p>“Bukan pidatonya yang perlu diperhatikan, pakaiannya Bung.”<br />
Wartawan ditegur begitu segera mengamati pakaian Bapak itu</p>
<p>“Ya, beliau telah mengorupsi kancing bajunya sendiri. Itu yang seharusnya<br />
  lima hanya terpasang tiga. Ya, ya, dasinya dipotong sepertiganya. Wah-wah,<br />
  Gila. Kok tali sepatunya hanya satu ang dipakai? Kaos kakinya juga hanya satu.”</p>
<p>“Begitulah negeri ini. Semua orang telah menyatu dengan nafas korupsi, dari orang tertinggi sampai orang terendah semua mahir ngunthet dan ngoruosi barangnya<br />
  Sendiri.”</p>
<p>Sehabis pidato ada pemukulan gong, hanya sekali, sebagai tanda resmi dimulainya<br />
Festival Korupsi.</p>
<p>Pembawa acara atau MC lalu menjelaskan bahwa festival ini akan diawali dengan penamplan kelompok-kelompok musik antik dari berbagai pelosok.</p>
<p>“Pertama kali tampil, Kiai Jangkung, akan menampilkan lagu Tombo A&#8230;”<br />
“Harap bersiap kelompok kedua Kiai Jengking, menampilkan lagu terkenal<br />
     Ili-ili tandue wong sumili..”</p>
<p>Kiai Jangkung dan Kiai Jengking main bagus. “Kelompok ketiga, Kiai Jengkang<br />
Akan menampilkan lagu berjudul  Gun-gun pa..”</p>
<p>Menjelang pagi, tampil kelompok musik The Mbesengut, menapilkan lagu<br />
Ibu Pertiwi Tengah Berduka. Ditampilkan tanpa musik tanpa syair, cukup<br />
     dengan memasang tampang dan wajah mbesengut saja.</p>
<p>Penonton bertepuk tangan, bersorak-sorak.<br />
“Untuk malam ini acara selesai. Sampai jumpa besok malam.”</p>
<p>Pemandu wisata mengajak jalan-jalan, cari makan, sebelum ke hotel.<br />
Ada warung nasi goreng masih buka.</p>
<p>Wartawan memesan nasi goreng istimewa. Sepiring penuh.<br />
“Lho, rasanya kok anyep, tanpa garam dan bumbu?” protesnya.</p>
<p>Yang menjual hanya tersenyum,” Masak nggak tahu Anda ada dimana.”<br />
O, ternyata di negeri ini penjual makanan pun pandai korupsi bumbu<br />
    Malah garam saja disembunyikan tak untuk memasak.</p>
<p>Wartawan itu makin terbiasa dan paham dengan apa yang terjadi,<br />
Ia tidak kaget lagi ketika kopi panasnya pahit tanpa gula.</p>
<p>Begitulah, malam begikutnya ada lomba nasi tumpeng paling korup.<br />
Tahu juaranya? Juara kedua, nasi itu luarnya tampak kuning karena dipilox<br />
   Daun pisangnya diganti daun bambu, telur ayamnya diganti telur puyuh.</p>
<p>Juara pertama? Berupa penampilan hologram tumpeng yang indah dan<br />
Tampak lezat. Begitu mesin hologram dimatikan, tumpeng lenyap.</p>
<p>Yang seru adalah malam ketiga Festival Korupsi. Malam lomba menampilkan buku yang paling berharag di negeri ini tahun ini.</p>
<p>Juara buku sastra  adalah buku novel yang ketika dibuka ternyata berisi cerpen, dan buku cerpen yang ketika dibaca berisi puisi, dan buku puisi yang ketika dibuka ternyata kosong melompong. Putih. Ini juara pertama.</p>
<p>“Ternyata penyair adalah orang yang paling ahli daam mengkorupsi kata-kata,” begitu kata dewa yuri dalam pidato pertanggungjawaban yuri.</p>
<p>Begitulah, selama empatpuluh hari empatpuluh malam wartawan itu meliput<br />
Festival Korupsi di negeri Korupsiana. Macam-macam hal yang difestivalkan.</p>
<p>Festival ini ditutup oleh Wakil Presiden negeri itu. Ia datang ke panggung dengan mengenakan kaos bergambar mulut mengangga dan celana pendek kepunyaan isteri.</p>
<p>“Dengan tidak usah berdoa, festival ini saya nyatatakan ditu&#8230;”<br />
Penonton bertepuk tangan.</p>
<p>Tiba-tiba lampu padam kekurangan stroom. Stroom listrik yang dikorupsi oleh<br />
petugas perusahaan listrik Korupsiana mengakibatkan seluruh lampu di ibukota padam<br />
    total, sampai siang.</p>
<p>Wartawan itu berniat kembali ke negerinya sendiri. Ia ingin membandingkan korupsi<br />
yang ada di negerinya dengan di negeri ajaib Korupsiana ini.</p>
<p>Betapa terkejutnya ketika pesawat mendarat di kota kelahiran, meluncur tanpa ban, masuk ke kolam jadi ampibi. Lampu sinyal di bandara diganti dengan senthir.</p>
<p>“Wah, negeriku ternyata jauh lebih maju dibanding negeri tadi,” keluhnya.<br />
Dan ketika akan membuat laporan, semua catatan hilang dan gambar di kamera digital pun tidak ada lagi. Ia lemas. Memilih tidur berhari-hari. 2007</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?feed=rss2&amp;p=12</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Museum Musik Yogyakarta</title>
		<link>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=1</link>
		<comments>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=1#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Jan 2009 23:56:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Aulia Muhammad</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seni dan Budaya]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://blog.suara-muhammadiyah.com/?p=1</guid>
		<description><![CDATA[Saya membayangkan, seandainya koleksi-koleksi itu bisa dikumpulkan, kemudian diformat dalam bentuk audio dan video modern (berhak cipta tentunya), disimpan di sebuah tempat (museum musik) yang representatif, disajikan kepada masyarakat melalui headpone dengan layar monitor komputer—dilengkapi pula referensi tentang band, musisi, dan lyric yang cukup—dst… alangkah manisnya. Akan sangat membantu dan memudahkan masyarakat penikmat musik (selain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Saya membayangkan, seandainya koleksi-koleksi itu bisa dikumpulkan, kemudian diformat dalam bentuk audio dan video modern (berhak cipta tentunya), disimpan di sebuah tempat (museum musik) yang representatif, disajikan kepada masyarakat melalui headpone dengan layar monitor komputer—dilengkapi pula referensi tentang band, musisi, dan lyric yang cukup—dst… alangkah manisnya. Akan sangat membantu dan memudahkan masyarakat penikmat musik (selain melalui radio) mengapresiasi karya-karya musik Bacamarte (Brasil), Le Orme (Itali), Yezda Urfa (Amerika), Carptree (Swedia), Quidam (Polandia), After Crying (Hungaria), Nexus (Argentina), Ars Nova (Jepang), Ark (Norwegia), Kayak (Belanda), Tangerine Dream (Jerman), Manudibango (Afrika), IQ (Inggris) dsb. Atau memanjakan penikmat musik yang ingin sekadar bernostalgia mendengarkan Bali Agung (Eberhard Soener), Alam Raya (Abbhama), dan Nonton Bioskop (Bing Slamet) misalnya. [<a href="http://4uk1603.wordpress.com" target="_blank">More</a>]</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://blog.suara-muhammadiyah.com/?feed=rss2&amp;p=1</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
